Insiden Wairau, Pertempuran Mematikan di Selandia Baru

Insiden Wairau adalah pertempuran mematikan antara pemukim Eropa dan orang pribumi Maori di Pulau Selatan Selandia Baru. Sengketa ini melibatkan wilayah di Wairau Plains, dekat kota Nelson, di bagian timur laut pulau. Ini adalah konflik besar pertama antara Maori dan pemukim Inggris setelah penandatanganan Perjanjian Waitangi 1840. Insiden itu juga merupakan konflik bersenjata pertama antara pemukim dan Maori di Pulau Selatan.

Wairau Incident MemorialPerjanjian Waitangi telah membentuk landasan untuk membangun Selandia Baru sebagai koloni Inggris. Namun, orang Inggris dan Maori sering tidak setuju atas persyaratan dalam perjanjian. Pada pertengahan tahun 1843, pemukim dari New Zealand Company, yang membawa penjajahan Inggris, mengklaim wilayah tradisional yang dikuasai suku Maori di Wairau Plains. Te Rauparaha dan Te Rangihaeata adalah kepala Maori lokal dari suku Ngati Toa iwi. Mereka mengklaim otoritas atas wilayah tersebut dan membantah telah menjualnya.

Dalam upaya untuk membela hak-hak mereka, Maori berusaha untuk menunda survei pemukim atas wilayah itu. Sebagai tanggapannya, kelompok bersenjata dari pemukim berangkat dari Nelson. Kelompok ini berencana untuk menangkap Te Rauparaha dan pendukungnya. Namun, pertempuran pecah, dan 22 kolonis dan setidaknya 4 orang Maori gugur. Te Rongo, istri Te Rangihaeata dan putri Te Rauparaha, adalah salah satu korbannya.

Insiden Wairau mengkhawatirkan banyak pemukim Inggris, yang takut itu bisa memicu pemberontakan Maori yang lebih luas. Para pemukim meminta pemerintah kolonial untuk mengambil tindakan tegas terhadap Maori. Namun, gubernur kolonial baru, Robert FitzRoy, menyelidiki situasi dan menentukan bahwa Maori berada di pihak yang benar. Ia menemukan bahwa Maori tidak pernah menjual tanah mereka.

Beberapa sejarawan menyebut Insiden Wairau sebagai “Pembantaian Wairau” atau “Keributan Wairau.” Namun, sejarawan modern umumnya menolak nama-nama itu untuk mengimplikasikan bahwa koloni tidak bersalah. Para sarjana saat ini menerima bahwa, meskipun kedua belah pihak bertanggung jawab atas kekerasan yang terjadi, orang Maori hanya membela tanah mereka sendiri.

Artikel Menarik Lainnya :

Advertisements

Leave a Reply

Fill in your details below or click an icon to log in:

WordPress.com Logo

You are commenting using your WordPress.com account. Log Out / Change )

Twitter picture

You are commenting using your Twitter account. Log Out / Change )

Facebook photo

You are commenting using your Facebook account. Log Out / Change )

Google+ photo

You are commenting using your Google+ account. Log Out / Change )

Connecting to %s