Masyarakat Mesir Kuno dan Agamanya

Kelas Sosial Kebudayaan Mesir

Kekaisaran Mesir mengembangkan beberapa sistem sosial dan keagamaan yang sangat canggih. Ada beberapa kelas orang-orang dalam masyarakat Mesir. Pada bagian atas adalah keluarga kerajaan, bangsawan, dan imam. Pada bagian bawah mereka, adalah para pedagang, pengrajin, ahli-ahli Taurat, dan pemungut pajak. Kelas bawahnya lagi, sebagian besar terdiri atas petani, yang merupakan mayoritas penduduk. Akhirnya, pada bagian paling bawah adalah, budak yang berasal dari orang-orang yang ditaklukkan oleh bangsa Mesir.

Agama bangsa Mesir adalah politeistik (menyembah banyak dewa) , meskipun beberapa dewa  lebih diutamakan daripada yang lain. Beberapa dari mereka dewa yang termasuk dewa-dewa yang utama ialah:  Ra, dewa matahari; Osiris, dewa hidup dan mati; serta Isis, istri Osiris.

Sebagai bagian dari agama Mesir Kuno, hieroglif diciptakan untuk merapal mantra sebagai pertolongan pada kehidupan setelah kematian-merupakan kepercayaan agama lainnya yang bangsa Mesir anut. Hieroglif adalah simbol yang menggambarkan benda, ide, dan/atau suara. Bangsa Mesir menempatkan hieroglif di dalam kuburan orang mati yang telah dimumikan untuk mengambil manfaat dari kekuatan magis yang mereka rasakan dimiliki oleh hieroglif tersebut.( lihat juga : Peradaban Pertama di Afrika dan Asia Barat)

Kepercayaan pada kehidupan setelah kematian juga merupakan hal yang sentral bagi persiapan tubuh setelah kematian karena tubuh merupakan rumah bagi  jiwa. Proses mumifikasi pada mumi ini dimulai karena adanya kebutuhan yang dirasakan untuk melindungi rumah tersebut. Proses itu sendiri berlangsung sangat lama terkadang hingga 70 hari. Jenazah tersebut dikeringkan secara memadai dan dibungkus kain agar mampu bertahan selama berabad-abad.

Pencapaian Bangsa Mesir Kuno

Agama adalah mesin yang mendorong bangsa Mesir dalam beberapa pencapaian yang sangat penting bagi ilmu pengetahuan. Mereka menciptakan penanggalan 365 hari untuk menelusuri bintang-bintang sebagai tujuan keagamaan dan untuk mengatahui banjir dari Sungai Nil. Matematika dan teknik dikembangkan untuk membangun berbagai piramida, karena tubuh firaun harus ditempatkan di sebuah monumen besar dengan tujuan agar firaun dapat menemukan tubuhnya kembali,  ketika jiwa mereka kembali ke tubuh mereka.

Bangsa Mesir menguraikan anatomi tubuh manusia, yang merupakan bahan referensi yang tak terhitung jumlahnya bagi peradaban selama berabad-abad, kesemuanya tersebut  karena adanya proses mumifikasi yang terkait dengan keyakinan akan kehidupan di akhirat. Pencapaian serta kisah mereka  tidak akan hilang di dalam jam pasir waktu dari Mesir . Peradaban Barat dan dunia belajar dari Mesir jauh sesudah kerajaan mereka telah menghilang.

lampukecil-29

Pada akhir abad ke-19 dan awal abad ke-20, terdapat pasar mumi yang sangat besar di Eropa. Bahkan beberapa orang dengan sengaja menggali beberapa mumi untuk digunakan sebagai pengobatan.

Pembahasan selanjutnya : Sungai Tigris dan Eufrat

Artikel Menarik Lainnya :

LampuKecil.com

Advertisements

Leave a Reply

Fill in your details below or click an icon to log in:

WordPress.com Logo

You are commenting using your WordPress.com account. Log Out / Change )

Twitter picture

You are commenting using your Twitter account. Log Out / Change )

Facebook photo

You are commenting using your Facebook account. Log Out / Change )

Google+ photo

You are commenting using your Google+ account. Log Out / Change )

Connecting to %s