Bagaimana Warna Kulit Bisa Berbeda-beda?

warna-kulit

Warna kulit merupakan hasil dari adanya pigmen yang disebut melanin, yang terletak di epidermis, atau lapisan luar kulit, dan diproduksi oleh sel yang disebut melanosit. Melanin bertindak sebagai perisai pelindung terhadap radiasi ultraviolet dan membantu mencegah kerusakan sinar matahari yang dapat menyebabkan melanoma (kanker kulit).

Ada beberapa teori tentang evolusi pada warna kulit. Sebuah teori yang telah lama dianut mengemukakan bahwa orang-orang di daerah tropis yang dekat dengan khatulistiwa mengembangkan kulit yang gelap untuk menghalangi  matahari yang kuat. Semakin lemah sinar ultraviolet, maka warna kulit lebih terang . Kadar yang lebih besar dari melanin pada orang berkulit gelap akan mencegah mereka dari kelebihan dosis vitamin D, yang dapat menjadi racun dalam konsentrasi yang tinggi. Namun, kritikus dari teori ini mengatakan bahwa tidak mungkin untuk overdosis dengan kadar alami vitamin D.

Manusia membutuhkan sinar ultraviolet untuk menembus kulit guna memproduksi vitamin D, yang dibutuhkan untuk usus dalam penyerapan kalsium dan fosfor dari makanan serta menyimpannya di dalam tulang kita. Kurangnya hasil vitamin D maka dapat menyebabkan  rakhitis pada anak-anak dan osteoporosis pada orang dewasa.

Masyarakat yang tinggal di atas lima puluh derajat lintang utara atau di bawah lima puluh derajat lintang selatan memiliki risiko yang jauh lebih tinggi kekurangan vitamin D. Tetapi dapat terpenuhi dengan ikan, yang menyediakan akses ke makanan kaya vitamin D, sehingga memungkinkan manusia purba hidup di daerah yang beriklim sedang dan kutub.

Sebuah teori baru menyatakan bahwa perbedaan warna kulit  berkaitan dengan fakta bahwa sinar ultraviolet dari matahari mempengaruhi tingkat asam folat (sejenis vitamin B) di dalam tubuh. Satu jam paparan dari sinar matahari yang intens dapat mengurangi setengah tingkat asam folat orang yang berkulit terang .

Orang-orang yang tinggal di daerah tropis mengembangkan kulit gelap untuk menghalangi matahari dan melindungi cadangan folat mereka. Orang yang tinggal lebih jauh ke utara atau selatan berevolusi untuk memiliki kulit yang lebih pucat sehingga mereka bisa menyerap sinar ultraviolet lebih dari matahari dan menghasilkan vitamin D yang dibutuhkan tubuh, tetapi mereka juga perlu untuk mendapatkan lebih banyak asam folat dari pola makan mereka.

Orang  yang berkulit terang juga memiliki risiko yang lebih tinggi dari kanker kulit. Rendahnya tingkat asam folat berhubungan dengan cacatnya tabung saraf, seperti spina bifida. Wanita usia subur harus memastikan untuk mendapatkan cukup folat di dalam pola makan mereka bahkan sebelum mereka hamil.

Beberapa antropolog percaya bahwa kedua teori tersebut mungkin benar. Mereka percaya bahwa orang yang dekat dengan garis khatulistiwa mengembangkan kulit yang lebih gelap untuk menghalangi matahari dan melindungi cadangan asam folat pada tubuh mereka. Orang-orang dekat dengan daerah kutub mengembangkan kulit yang lebih terang untuk menghasilkan jumlah vitamin D yang cukup selama musim dingin yang panjang.

Artikel Menarik Lainnya :

LampuKecil.com

Advertisements

Leave a Reply

Fill in your details below or click an icon to log in:

WordPress.com Logo

You are commenting using your WordPress.com account. Log Out / Change )

Twitter picture

You are commenting using your Twitter account. Log Out / Change )

Facebook photo

You are commenting using your Facebook account. Log Out / Change )

Google+ photo

You are commenting using your Google+ account. Log Out / Change )

Connecting to %s